Sunday, May 10, 2015

In a Blue Moon - Ilana Tan


Judul : In a Blue Moon
Penulis : Ilana Tan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2015
Tebal : 320hal
Sinopsis : In a Blue Moon
Review : 

"Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku." - Lucas Ford.

Dan akupun meleleh~~ Kalau aku jadi Sophie, mungkin aku akan langsung berkata," Nikahi adek bangggg~~ Adek siap jadi bini abanggg~~ but well, Sophie tentu tidak akan bersikap seperti itu :D

Cerita ini digambarkan dengan begitu baik oleh Ilana Tan. Aku tak pernah sekalipun ragu dengan penulis satu ini. Singkatnya Sophie punya masa lalu buruk karena Lucas Ford. Ketika dewasa, mereka kembali dipertemukan dan bahkan diisyaratkan untuk bertunangan. Sophie membencinya. Lucas yang sadar akan hal itu pun berusaha untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu dan berupaya untuk memenangkan hati Sophie. 

"Dengar, anak laki - laki yang dulu membuat hidupmu susah memang aku. Tapi orang yang tadi kau lihat di dalam sana itu juga aku. Manusia bisa berubah, Sophie." hal 79

Bukan hanya Sophie yang tersentak mendengar pernyataan itu, tapi aku juga. Ya, seiring dengan berjalannya waktu, setiap orang pasti berubah. Entah itu berubah dari positif menjadi negatif, atau berubah dari yang baik menjadi lebih baik lagi. Dari sudut pandang Sophie, Lucas digambarkan sebagai lelaki penakut yang lebih memilih untuk menyelamatkan diri sendiri dengan cara ikut membully orang - orang disekitarnya. Akan tetapi seiring dengan berlalunya waktu, Lucas berubah menjadi sosok yang independen, ramah, dan penyayang. 

Ia mungkin melakukan kesalahan di masa lalu, tapi dia hadir di masa kini untuk memperbaiki semuanya. Well, siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Ketika kau salah dan kau tahu kesalahanmu dan berniat memperbaiki semuanya, kau sudah satu langkah lebih baik dari dirimu yang sebelumnya. 

Ilana Tan sukses menciptakan tokoh Lucas. Bagiku pribadi, ia tipe pria idaman setiap wanita. Gimana nggak? Dia bisa masak, punya restoran sendiri, tampan dan menarik. Semua wanita pasti mendambakan sosok seperti itu. Hanya saja terkadang muncul keinginan kecil untuk menyentil telinga Lucas untuk menyadarkannya bahwa sebagai seorang laki - laki, ia harus lebih tegas.  

Salah satu yang aku suka dari hubungan benci namun cinta ini adalah romancenya yang pas dan tidak berlebihan . Hubungan ini terasa dewasa, matang, dan keduanya saling percaya. Aku rasa itu yang paling penting dalam suatu hubungan. Lucas tampan, tapi sifatnya yang membuatku lebih dari sekedar suka kepadaya. 

Untuk tema, alur dan setting, aku tidak terlalu ingin membahasnya. Bagiku semuanya tidak lagi menjadi soal jika penulis mampu menciptakan tokoh yang baik dan cerita yang menakjubkan. Aku tipe orang yang susah move on dari buku bagus. Walaupun sudah selesai membacanya, aku akan terus membicarakannya sepanjang waktu. Buku ini salah satunya. :)

Bintang : 
5 dari 5

Monday, February 16, 2015

Love Bites - Edith PS


Judul : Love Bites
Penulis : Edith PS
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2014
Tebal : 200hal
Sinopsis : Love Bites
Review : 

Temanya nggak pasaran dan cukup menarik untuk dibaca. Gimana nggak? Istri dan suami bertukar peran dalam rumah tangga mereka. Pertama - pertama, hubungan ini terasa awkward sekali bahkan untuk pembaca sekalipun. Vania seorang workaholic, dan Ivan suaminya adalah seorang penulis yang notabene hanya tinggal dirumah, lebih banyak pusing memikirkan tema dan isi naskahnya daripada kerja kantoran. Mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Cherish. Dan pekerjaan - pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Vania malah dilakukan oleh Ivan. Yup, Alfa Wife, Beta Husband. Bisakah hubungan ini langgeng? In my humble opinion, sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dijalani. 

"'Menghasut' kedengarannya sangat desperate deh, karena kamu toh nggak pernah menang berdebat denganku, Van."

Penghasilan Vania lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga mereka. Tak jarang Ivan diberi modal untuk usaha. Namun sayangnya, setiap kali mencoba, Ivan selalu menemui kegagalan. Nah kali ini, Ivan bertemu dengan seorang teman lama yang mengajaknya untuk usaha bersama. Ivan ingin menunjukkan kalau ia mampu tanpa bantuan financial dari Vania, tapi disatu sisi ia juga bingung harus cari dimana modal besar untuk usahanya ini? 

Ketika istri tidak menjalani perannya dengan baik,,,

Karena kesibukannya, Vania jarang menjemput anak semata wayangnya. Ivan-lah yang melakukan pekerjaan itu. Rutinitas itu membuatnya bertemu dengan guru Cherish, Cita. Berawal dari tegur sapa dan berakhir dengan hubungan yang lebih dekat. Pantaskah itu? 

Ketika seorang suami tidak dihargai sebagaimana mestinya, apakah ia harus menyerah dalam hubungan itu atau mempertahankannya? Hubungan ini terlalu complicated. Vania merasa ia sudah memberikan semuanya kepada keluarga ini, dan Ivan merasa ia sudah cukup banyak mengalah untuk Vania. Ya begitu saja terus sampai dunia kiamat. When you face a problem, you need to sit down and talk. Ceritakan apa masalahmu, dan bareng - bareng cari solusinya. 

Well, pesanku untuk Vania, belajarlah dari Alexandra (Twivortiare - Ika Natassa) Pekerjaanmu memang penting. Tapi apakah itu masih penting jika rumah tanggamu tidak berjalan dengan baik karena kesibukanmu dikantor?

"Van, bagi Mbak, lebih baik kucel dengan daster kusam kelonggaran dan wajah berminyak seperti ini tapi selalu menjadi tempat suami dan anak - anak pulang daripada berblazer lengkap tapi pulang dalam keadaan hampa..sendirian.." 

Esensi membaca buku itu adalah segala hal yang terjadi didalam buku tersebut memiliki hikmah tersendiri buatmu. Buah yang baik kita petik, Buah yang busuk kita tinggalkan. I'd never want to be like Vania. Not now and not in the future. 

"Marriage will never be easy to anyone."

 Here comes advices from a bachelor woman,,, 
1. Jangan terlalu perhitungan karena itu menyebalkan.
2. Jangan merasa paling benar. Karena yang benar pun bisa salah.
3. Jangan menghakimi. Karena kamu tidak berada diposisinya. 
4. Bersikaplah jujur dan setia. Karena itulah yang paling penting dalam suatu hubungan. 
5. Mengalahlah, meskipun kamu benar, tapi hubungan rumah tanggamu lebih penting daripada urusan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Sekian :) 

(***)


Monday, February 9, 2015

Koala Kumal - Raditya Dika


Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya Dika
Sinopsis : Koala Kumal (Goodreads)
Tahun : 2015
Tebal : 260hal
Review :

Never judge a book by its cover. But sometimes you just can't help it. Can you?
Well, hal itu yang pertama kali aku lakukan ketika aku memutuskan untuk membeli buku ini. Umm. Koreksi, itu hal kedua. Hal pertamanya adalah karena yang menulis Koala Kumal adalah Raditya Dika. Sebagai orang yang mengoleksi buku-buku terbitannya, aku merasa wajib untuk membeli buku ini. You see, betapa pentingnya punya "nama" di industri ini. 

Dan tahukah kamu bahwa seiring dengan begitu banyaknya terbitan karya anak dalam negeri dan betapa pentingnya untuk menjaga agar isi kantong tetap sehat, aku jadi lebih selektif dalam hal membeli buku. 

Faktor yang menentukan apakah aku akan membeli buku tersebut adalah :
1. Yang menulis buku itu adalah penulis yang kukenal (baca : aku sudah sering membaca novelnya)
2. Covernya terlihat begitu menarik
3. Sinopsisnya tidak menye-menye, tidak aneh dan membuat orang penasaran. 

Oh ya, tulisan - tulisan kecil dan buku tebal juga membuatku berpikir berpuluh-puluh kali sebelum aku memutuskan untuk membeli atau tidak.
Apakah aku akan membacanya? Apakah aku sanggup membacanya? Apakah otakku cukup prima untuk membacanya? Dan yang paling crucial saat ini adalah apakah aku punya waktu untuk membacanya? 

But thank God. Aku tidak mengalami kesulitan apa pun ketika membaca Koala Kumal. Kalau boleh disimpulkan, buku ini lebih sering membahas tentang cinta. Cinta yang tak terbalas, cinta yang mengkhianati, cinta yang tak pernah ada. 

Salah satu bab kumcer yang menarik perhatianku adalah Perempuan Tanpa Nama. Well, perempuannya bukannya lahir tanpa nama, tapi perempuan tanpa nama adalah perempuan - perempuan yang pernah singgah di hati Dika tanpa ia ketahui namanya. Semua pertemuan akan dilanjutkan dengan pertemuan - pertemuan lainnya jika kita berani memulai pembicaraan. Akan tetapi sering kali gengsi mengalahkan semuanya. "Masa aku duluan yang menyapa", "Bagaimana kalau dia tidak menghiraukanku?", "Aku bingung harus mulai darimana" Semua yang ada dipikiran kita terkadang bisa mengacaukan semuanya. Bagaimana kalau kita berhenti berpikir dan mencoba menyapa dengan kata "Hai" dan biarkan semuanya mengalir saja? Mungkin itu akan lebih baik. Seperti kata orang bijak,"You will never know if you never try."

Oh, dan Bab Aku Ketemu Orang Lain itu somehow menyakitkan hati. LDR adalah mimpi buruk bagi setiap pasangan. Siapa sih yang mau pacaran trus tiba - tiba harus pisah bukan dalam artian break up tapi beda jarak. Aku disini dan kamu disana. Pacaran via skype, BBM, Line. Who wants that kind of relationship? Yang ada ujung-ujungnya berakhir dengan perselingkuhan karena posisi digantikan oleh orang lain. T_T Tapi balik lagi ke pribadi masing - masing. Harus ada komitmen yang kuat dan rasa percaya terhadap masing - masing agar hubungan bisa berjalan dengan baik. Tak sedikit pasangan yang kutahu berhasil sukses dengan hubungan ini. Aku berdoa semoga hubungan mereka akan terus bertahan dan kokoh selamanya. 

Koala Kumal bukan cerita yang akan membuatmu berpikir keras. Terkadang kamu akan merasa konyol dengan ceritanya, bahkan takjub dengan beberapa hal. Tidak sampai membuatku ketawa terpingkal-pingkal, but I've learned your lesson, Dika. 


Rate : 3 of out 3


Sunday, November 23, 2014

Limitless : Devotions for a Ridiculously Good Life - Nick Vujicic


Title : Limitless : Devotions for a Ridiculously Good Life
Author : Nick Vujicic
Published on : April 2nd 2013
Publisher : WaterbrookPress
Synopsis : Limitless
Stars : 5 out of 5
Review :

First of all, I'd like to say welcome back to myself. It's been a long time since the last time I blogged. I've been missing this moment like crazy and here I am, typing enthusiastically and ready to share everything here #nospoilerintended :)

So I went to Popular bookstore in Penang last two weeks and wandering around. Then I walked to the best seller shelf and saw Nick Vujicic’s book titled Limitless. The book itself isn’t thick so I thought I could carry it around inside my bag. When I returned to the hotel where I stayed, I began reading that book. And to my surprise, Nick’s words have moved and driven me. How can someone be so positive when he has so much to think the otherwise? That’s what I want to learn from him.

When I was young, I often asked myself, what is my talent? My friends are good at singing, dancing, etc. but what am I good at? I’m average in everything. I often think that I’m not valuable enough because I have nothing to be proud of. But then I realize why do I look so low about myself? If I’m not cheering my own self, telling that I’m good, then who else will?

I realize that no one is perfect and so am I. I don’t have to be good at singing or math to be known. I just need to be myself. Be proud of every positive thing that I’ve done to other people and be happy each day. Carpe diem. Now I understand that the greatest happiness to me is seeing other people happy. So, if you are happy, then so am I.  

“It won’t matter how much money I’ve made or how many nice cars I’ve owned. What will matter is that I’ve reached out to someone and served a purpose greater than my own. “ pg 159

Nick’s story has taught me many things. It opens my mind and my heart to the next level of living my life to the fullest. I really love everything about him. He gives positive vibes to the readers based on his stories and his beliefs. And I really believe him when he said that what he was saying in his books is all true. It’s always easier said than done, of course. But Nick did not just say it, but he had gone through it. So there is no doubt at all. Not even a sec.

Honestly, I feel ashamed for what I can’t do but Nick can. He can swim, cook, and even surfing. Can you imagine how cool is that? He doesn’t spend a day without trying a new thing. When he tried and failed, he didn’t quit. Instead, he kept trying. That’s what I love about him, his super powerful courage.

We always get to choose. We just don’t always know about it. For every day that passed, when we woke up, we can choose what do we want to do, what do we want to wear, etc. Most importantly, we get to choose either we want to be happy for a new day that God gives to us, or be sad and worry about anything that hasn’t come yet.

I read his biography and know that his life at his young age was not easy. He ever attempted to suicide by drowning himself at the bathtub for several times because he felt that life wasn’t fair to him. He often prayed to God and wished that when he woke up in the morning, God would give him arms and legs. But that pray never come to him. He was also being picked on at school for being different than other kids his age. Who’s fault was that? There is no medical reason for Nick being born without arms and legs. So one day, Nick woke up and realized that even though he is born without limbs, it doesn’t mean he can’t be happy and enjoy his life. He began to accept himself, and by the love of his parents and family, he can overcome his fear and change his upset into gratitude. It's an amazing attitude. 

“If God can take someone like me, someone without arms and legs and use me as His hands and feet, he can use anybody.  It’s not about ability. The only thing God needs from you is a willing heart.”

I am really looking forward to any event that put him as the public speaker. I would like to see him by myself, listening to his speaking and hug him tightly for being such a great person for everyone.

Thank you Nick. You are the coolest person that I’ve known for my entire life. 



Wednesday, July 2, 2014

Blog Tour - People Like Us Giveaway Winners


Selamat pagi para pembaca yang setia, tak terasa satu minggu telah berlalu sejak giveaway blog tour People Like Us dilaksanakan. Itu berarti saatnya pengumuman siapa dua pemenang buku Then I Hate You So juga dua sampul buku People Like Us dari Emerald Green Label. 

Untuk satu minggu yang berharga ini, saya mau mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Haru yang secara pribadi mengajak saya untuk ikut serta dalam Blog Tour People Like Us ini. Walau disibukkan dengan kerjaan kantor, Puji Tuhan semua masih bisa tercover dengan baik. Terima kasih atas kepercayaannya terhadap saya untuk mengikuti blog tour ini. It's actually my first time untuk berpartisipasi dalam blog tour yang diadakan oleh penerbit. 

Dan yang pasti, tak lupa saya ucapkan terima kasih juga buat teman - teman yang sudah berpartisipasi dalam blog tour People Like Us ini. Terima kasih atas jawaban - jawaban luar biasa yang sudah diutarakan di post sebelumnya ya. Saya yakin itu semua jujur dan tulus dari hati teman - teman semua. Sebelum membaca buku People Like Us, saya jarang atau mungkin tidak pernah berpikir tentang bagaimana jika suatu saat nanti saya kehilangan anggota keluarga saya, atau teman - teman baik saya, dll. Maka muncullah pertanyaan itu dan saya berharap kita bisa saling sharing lewat pertanyaan tsb. 

Boleh dibaca kembali sharing teman - teman di post sebelumnya : 
[Blog Tour] Review : People Like Us + Giveaway

Nah, tak mau menunda - nunda lagi, dua pemenang beruntung yang mendapatkan dua buku Then I Hate You So juga dua sampul buku People Like Us dari Emerald Green Label adalah : 


ADIN DILLA (@adindilla) 
RIZKI OKTAVIA (@rizKorea)

Nah, bagi para pemenang silahkan dm via twitter untuk konfirmasi alamat pengiriman paket bukunya ya :)
Ditunggu paling lambat 2x24jam setelah pengumuman pemenang giveaway ini diberitakan. Last but not least, terima kasih atas partisipasi teman - teman sekalian. xoxo.