Monday, February 20, 2017

Everything, Everything - Nicola Yoon

Judul : Everything, Everything
Penulis : Nicola Yoon
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Tebal & Tahun Terbit : 336hal ; 1 November 2016
Sinopsis : Everything, Everything
Review :

"Aku masih hidup, Tapi aku tidak mau hidup."

Karena penyakit yang dideritanya, Madeline Whittier belum pernah meninggalkan rumahnya selama tujuh belas tahun. Betapa irinya ia pada anak - anak yang bisa bermain dengan leluasa tanpa harus mengkhawatirkan kondisi kesehatan mereka. Sejak kecil Madeline divonis mengidap penyakit langka yaitu SCID atau yang dikenal dengan Severe Combined Immunodeficiency. Penyebabnya? Tak ada yang tahu pasti, yang jelas hal - hal kecil dapat membuatnya sakit, begitu tutur ibunya yang berperan sebagai dokter pribadinya.

Hampir seumur hidupnya, Madeline hanya mengenal Ibu dan perawatnya Carla. Kenangan masa kecilnya tidak banyak, ia bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas kenangan yang ia miliki dengan ayah dan kakak laki - lakinya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Maddy, begitu panggilannya, juga belajar ilmu pengetahuan dengan gurunya via video call. Tapi ibunya-lah sumber informasi baginya. Segala sesuatu telah diatur untuknya, jadwal hariannya, makanannya, dan bahkan pakaiannya. Maddy hampir tidak pernah membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Segala sesuatunya berubah ketika ia kedatangan tetangga baru. Laki - laki yang membuatnya gelisah sekaligus penasaran hingga kerap bolak balik mengintip di balik tirai jendela. Bak remaja pada umumnya, Maddy begitu ingin berkenalan dengan laki - laki bernama Olly itu. Tapi Ibunya takkan pernah memberinya izin bertemu dengan orang lain tanpa terkecuali.
"Di dalam kepalaku aku tahu aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi rasanya tidak seperti ini. Jatuh cinta padamu jauh lebih dari yang pertama kali. Rasanya seolah ini yang pertama dan terakhir dan sekaligus satu - satunya."
Tapi selama kita punya keinginan kuat, bukankah semuanya bisa kita lakukan? Maddy mencoba berbagai cara untuk bisa berkenalan dengan Olly, dan begitu juga sebaliknya. Tapi bukankah itu percuma jika setelah berkenalan ia akan jatuh cinta kepada Olly dan karena penyakitnya ia dan Olly hanya akan terluka karena tidak bisa bersama? 
"Hanya karena kau tidak bisa mengalami semuanya, bukan berarti kau tidak bisa mengalami apa pun. Lagi pula, cinta yang ditakdirkan untuk tidak bersatu adalah bagian dari hidup."
Buku ini seperti teka teki yang sulit ditebak. Pembaca seakan disihir untuk percaya setiap kalimatnya. Tapi ternyata banyak kejutan - kejutan yang mencengangkan. Saya suka dengan pribadi Maddy yang tidak mudah menyerah pada nasib. You go, girl!  Saya juga bersyukur bahwa di masa - masa sulitnya, Madeline tidak sendirian. Dia punya ibu yang begitu menyayanginya dan Carla, perawat yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Beberapa pesan Carla kepada Maddy yang saya suka :
1. "Luangkan sedikit waktu bersama ibumu. Pacar datang dan pergi, tapi ibu adalah milikmu untuk selamanya."
2. Bersikaplah baik kepada mamamu. Kau satu - satunya yang dia miliki."

Rating : 4/5

Sunday, January 29, 2017

Can't Let Go - Esi Lahur

Judul : Can't Let Go
Penulis : Esi Lahur
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal & Tahun Terbit : 312 hal, Maret 2015
Sinopsis : Can't Let Go
Review :
Denisa adalah seorang wartawan di sebuah perusahaan tabloid. Karena pekerjaannya, Denisa harus terjun langsung ke lapangan untuk meliput berita. Berita yang diliput pun beraneka ragam, mulai dari berita kecelakaan, bencana alam, dan lainnya. Denisa sendiri memiliki seorang pacar bernama Nigo yang adalah seorang aktivis hak buruh yang tidak punya pekerjaan tetap. Tujuannya baik, untuk membantu menyuarakan hak - hak masyarakat kecil. Akan tetapi tak jarang karena aktivitas yang tidak kenal waktu dan tempat itu menjadi hal yang membuat mereka bertengkar. 

Tak jarang pula Nigo meminjam uang kepada Denisa entah itu untuk keperluan pribadi maupun untuk  aktivitas sosialnya. Denisa sadar betul bahwa penghasilannya jauh diatas Nigo. Mereka pun bukan pasangan baru, sudah lima tahun lamanya mereka berpacaran, tapi belum ada tanda - tanda Nigo ingin melamarnya. Boro - boro melamar, untuk makan saja terkadang susah. 

"Nigo, aku mengumpulkan uang untuk beli rumah, mobil, dan kebutuhanku, atau untuk biaya menikah, bukan untuk membiayai buruh. Aku kekasihmu, bukan lembaga sosial." hahahaha GOOD JOB GIRL!

Dalam hubungannya dengan Nigo, banyak perbedaan yang membuat mereka sering kali berdebat. Beda pendapat itu wajar, justru terkadang malah asyik karena adanya perbedaan. Tentu akan sangat membosankan jika semua yang kamu ucapkan selalu mendapatkan jawaban yang sama yaitu, "ya, saya setuju.". Terkadang kita perlu berbeda pendapat agar kita bisa melihat suatu perbandingan. Belum tentu semua yang kita yakini itu benar dan belum tentu semua yang diucapkan lawan bicara kita itu salah.

Sebagai seorang wartawan, Denisa selalu berusaha bersikap profesional dengan memisahkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Walau tidak suka menonton pertandingan sepak bola, Denisa tetap diminta meliput Massimo Rozzoni, atlit sepakbola blasteran Indonesia - Itali yang berparas tampan. Awalnya ia ogah - ogahan, tapi setelah bertatap muka dengan Massimo, rasanya meliput berita sepak bola bukanlah hal yang buruk. Hubungan yang tadinya hanya sebatas wartawan dengan atlit sepak bola pun perlahan menunjukkan kemajuan. Tapi apakah itu akan berhasil? Jarak antara mereka terlalu besar, Denisa yang hanya seorang wartawan tidak ingin hatinya hancur karena merasa hubungan mereka tak akan berhasil. Belum lagi hubungannya dengan Nigo belum selesai.

Banyak topik menarik yang diangkat dalam cerita ini, seperti kekerasan, penyuapan, hubungan rumit antara Denisa dengan Nigo yang lebih mementingkan pekerjaannya sebagai aktivis buruh, juga hubungan Denisa dengan Massimo yang tidak jelas kedepannya. It's definitely worth to read. 

Buku ini pun adalah buku pertama Esi Luhur yang kubaca. Secara keseluruhan, ceritanya menarik. Wartawan salah satu tabloid terkenal yang disukai oleh pesebakbola ternama dan ganteng pula. Such a dream comes true ya. Konflik yang dipaparkan pun tidak rumit, sayangnya imho di bab - bab awal terkesan lambat, dan eksekusi di akhir cerita malah terlalu singkat dan terkesan terburu - buru. 

Rating : 3/5


Wednesday, January 25, 2017

Never Never : Part Three - Colleen Hoover, Tarryn Fisher (Never Never #3)

Title : Never Never : Part Three
Series : Never Never
Authors : Colleen Hoover, Tarryn Fisher
Publisher (format) : Kindle edition
Publication Date : January 19th 2016
Synopsis : Never Never : Part Three
Review :
This review is going to be the shortest review ever, because I really don't want spoil anything to you who haven't read it. What I am going to say is You.Need.to.Read.This.Book, no matter how asdfghjhkl it ends. When I finished this book, my reaction was like so, that's it? Is that all? I like it, but I can't say that I'm satisfied with the ending, though. I was hoping for something more like jaw-dropping fact, specific and reasonable to this mystery but it failed me. It's like a mind blowing story, but not in a good way. I was totally blown away by Silas and Charlie's story who got their memories lost for no reason, and their ways to get their memories back. But geezzz, that's the lamest reason ever! 

However, I still adore the writing, it was really good and made me stayed up all night to read it. It's not my first time reading Colleen's book so I know she won't disappoint me, and Tarryn's writing isn't bad at all. Thumbs up for these two superb authors. Funny thing is when Colleen herself rated her book with one star only lol. She is so cute!



Well, I will just share my favorite quotes of Silas that would make every girl swoon, it might sound cheesy, cliche, corny, you name it, but I love it! Silas is the most charming, gentle and considerate man ever :)
"What is the one thing you're the most scared of forgetting?"
"You." 
"I would rather have lost my memory again with her than to have her be alone in this. At least when we were in it together, we knew it was something we could work together." 
"I know I have said it before, but I love that we still write letters to each other. Texts got deleted and conversations fade, but I swear I'll have every single letter you've ever written me until the day I die."

They say that even when the world seems unfair to you or nothing feels right, but always be grateful in any situation because there is always something to be thankful for. "It just seems like maybe we were ungrateful. A little bit spoiled. I'm not sure our parents taught us how to be decent humans. So in a way. . . I'm grateful this happened to us."

Upss... Did I just say earlier that this review is going to be the shortest review ever? =.=' sorry folks!
Time to say goodbye! Make sure to put Never Never in your upcoming books to read okay? 


Never stop,
Never forget.

Rating : 3/5


Sunday, January 22, 2017

Never Never : Part Two - Colleen Hoover, Tarryn Fisher (Never, Never #2)

Title : Never Never : Part Two
Series : Never Never
Authors : Colleen Hoover, Tarryn Fisher
Publisher : kindle edition (hoover ink)
Publication Date : May 17th 2015
Synopsis : Never Never : Part Two
Review :

Charlie and Silas,
If you don't know why you're reading this, then you've forgotten everything.
You recognize no one, not even yourself.

Just imagine when you only have 48 hours to remember everything about yourself and the next second of it you remember nothing like who you are, where you are, and why you can't remember anything. It just happened over and over again without no explanation of why it happened. No one was there to help you except the letters that you wrote by yourself. Horrible, isn't it?

That's what happened to Silas and Charlie. This is the second part of the Never Never series, and this time Charlie is nowhere to be found. She was missing since the night she and Silas had an argument. Here we got a new fact that their families have a history together but then Charlie's father went to jail and he insisted that Silas's father was behind all of this. Everything was torn apart including the relationship that Silas and Charlie had.

I still have no clue about what's behind all of this and it's frustrating me. But I loveee everything about this story, the uncertainty, the mystery, and all. The authors are extremely good on this thing. I hope I'll be satisfied with the ending and get a reasonable reason of this mystery. Last but not least, Silas is still my favorite person and I really hope he and Charlie will get a good ending in the end. *fingers crossed* 

Down below is one of my favorite love letter that Silas wrote to Charlie : 

After you fell asleep, I moved the video camera closer to us.
I wrapped my arms around you and listened to you breathe until I fell asleep.
Sometimes when I have trouble sleeping, I'll play that video.
I know that's weird, but that's what you love about me.
You love how much I love you.
Because yes, I love you way too much.
More than anyone deserves to be loved.
But I can't help it. You make normal love hard.
You make me psycho-love you.

Rating : 4/5

PS : You can also read my review on the first book here Never Never #1

Angel in the Rain - Windry Ramadhina

Judul : Angel in the Rain
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tebal & Tahun Terbit : 468 hal & Oktober 2016
Sinopsis : Angel in the Rain
Review :
London menjadi tempat pelarian yang dipilih oleh Ayu dan Gilang. Berasal dari kota yang sama namun keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka pertama sekali bertemu di sebuah toko buku dekat penginapan mereka yang hanya berjarak ratusan meter. Dikenalkan oleh pemilik toko buku Mister Lowesley, mereka tidak pernah tahu kalau ini hanya awal dari pertemuan mereka.

Ayu seorang penulis novel yang punya segudang fans. Tapi apa artinya ketenaran itu ketika ia tidak bisa memiliki laki - laki yang ia cintai? Hal terburuk yang terjadi padanya adalah laki - laki ya ia cintai mencintai kakak kandungnya sendiri. Can it get any worse? Di sisi lain, Gilang mencintai perempuan yang hanya menganggapnya seorang sahabat. Perasaan - perasaan tak terbalas ini yang membuat Ayu dan Gilang putus asa dan kehilangan tujuan hidup. Minuman keras pun seolah menjadi teman sejati Gilang melewati hari dan mengucilkan diri dari yang lain menjadi pilihan yang dirasa tepat bagi Ayu sehingga ia tidak perlu terus berpura - pura bahagia dihadapan semua orang.
"Tapi apa kau sama sekali tidak percaya bahwa mungkin saja malaikat yang turun bersama hujan dan keajaiban cinta yang dia ciptakan benar - benar ada?"

Goldilocks - malaikat yang hadir ketika hujan turun. Goldilocks berperan juga sebagai narator yang menceritakan kisah Ayu dan Gilang, si pemuda lucu dan si gadis gila buku. Jujur saya tidak begitu mengerti makna dari Goldilocks dan kurang menyukai kata - kata "sayang" yang sering diumbarnya, terkesan agak lebay dan tidak tepat sasaran, imho.

Setiap kali Ayu dan Gilang bertemu, hujan pun turun membasahi mereka. Katanya kalau ketika hujan turun dan mereka melihat malaikat berpayung merah, itu berarti mereka berjodoh. Hal itu belum disadari oleh mereka karena banyaknya masalah dalam hidup mereka. Ketika Ayu sudah merelakan kekasih hatinya pada kakaknya, kakaknya malah berniat ingin berpisah. Dan pada saat Gilang sudah membuka hatinya untuk Ayu, sahabatnya Ning pulang dan hadir kembali dalam hidupnya.
"Gilang tidak pernah membayangkan dua gadis itu bertemu. Karena, dua gadis itu berasal dari dua waktu yang berbeda Masa lalu dan masa sekarang. Mereka cinta yang melukainya dan cinta yang kemudian menyembuhkanya. Dua gadis itu tidak seharusnya bertemu."
Not my favorite, tapi ini bukan bacaan yang berat. Kasihan juga melihat kisah percintaan Gilang yang nggak pernah mulus dan kelamaan menunggu. Buku ini menjadi pilihan untuk posbar review BBI Medan. Setelah membaca review teman - teman di Goodreads, seharusnya saya membaca buku London : Angel terlebih dahulu. Karena disana diceritakan awal Gilang mengejar Ning ke London. Ada yang mau meminjamkan? :D

Baca juga review dari BBI Medan lainnya :
1. Nova - Absurd Reader
2. Putri Utama - Perpetual Romanza
3.Ertalin - Fiction and Me
4. 

Rating : 3/5