Wednesday, March 13, 2013

(Not) Alone in Other Land


Judul : (Not) Alone in Other Land
Penulis : Lia Indra Andriana, Fei , Andry Setiawan
Penerbit : Penerbit Haru
Tahun : 2012
Tebal : 276hal
ISBN : 978-602-7742-06-2
Sinopsis :
Saya mulai merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya sempat bertanya-tanya apa pilihan saya ini benar? (Andry) Dan ternyata, memang sebuah sapaan sesimpel ‘halo’ dalam berbagai bahasa merupakan jurus yang sangat ampuh untuk membuka pembicaraan, dan juga jalan pertemanan dengan orang-orang dari berbagai negara. (Fei) Jika ada yang memiliki mesin waktu dan bertanya apakah saya ingin kembali ke masa lalu, saya akan meminta kembali ke masa 100 hari di Korea ini. Bukan untuk mengubahnya, melainkan untuk menikmatinya lagi. (Lia) *** Sendirian menjelajah negeri orang yang bahkan mereka tidak fasih bahasanya. Itulah yang dialami Lia, Fei, dan Andry pada awalnya. Mereka berangkat bermodalkan nekad dan memulai petualangan sebagai siswa bahasa di Seoul, Shanghai, dan Tokyo. Penuh kekhawatiran, namun juga penuh kegembiraan dan rasa penasaran yang meluap. Berulang kali Lia, Fei, dan Andry terus menantang diri sendiri untuk melakukan hal-hal baru. Proses yang membawa mereka berkenalan dan menemukan sahabat-sahabat baru, hingga pada akhirnya, semuanya itu membawa mereka kembali, berdamai dengan diri sendiri.

Review : 

Buku ini menceritakan perjalanan yang ditulis oleh ketiga penulis, Lia Indra Andriana, Fei dan Andry Setiawan ke 3 negara yang berbeda yaitu Korea, China, dan Japan. Bukan hanya sekedar menuturkan perjalanan mereka, tetapi para penulis juga menceritakan perjuangan mereka dalam belajar bahasa, berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda kewarganegaraan, dan juga budaya yang mereka pelajari selama berada dinegara tersebut. Diantara ketiga cerita tersebut, aku paling menyukai cerita Lia Indra Andriana - Korea. Bagiku ceritanya paling menarik, simpel / tidak bertele-tele, dan sarat makna. 

Kalau kita takut melakukan kesalahan, selamanya kita akan berjalan di tempat. Meskipun kesalahan kosakata sering terjadi, tetapi justru kesalahanlah yang membuat kita lebih cepat belajar.
Adakalanya saya merasa ragu dan takut. Namun ketika saya sadar bahwa yang menghalangi saya untuk maju adalah diri sendiri, maka saya coba singkirkan jauh-jauh pikiran itu. 
Secara keseluruhan, sebagai referensi buku ini cukup informatif. Dan bagian yang paling kusuka adalah Random Things About Korea, China and Japan. Saya suka mempelajari bahasa dan budaya. Kedua hal tersebut berkaitan erat dan tak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena ketika kita mempelajari bahasa dari sebuah negara, kita secara otomatis juga belajar budaya yang ada pada negara tersebut, begitu juga sebaliknya ketika kita ingin mendalami budaya suatu negara, secara tidak langsung kita akan mempelajari bahasa negara tersebut untuk dapat berkomunikasi dengan penduduk disana. 

Belajar bahasa adalah langkah kecil untuk mulai mengerti budaya bangsa lain dan memicu persahabatan dan perdamaian dengan bangsa tersebut. Karena itu, belajar bahasa tidak akan bisa cukup hanya dengan belajar dan menghafal kata-katanya saja. Belajar bahasa membutuhkan kesabaran dan pengertian akan budaya si empunya bahasa tersebut. 
Saat ini bahasa yang benar-benar ingin kukuasai adalah Korea, Mandarin dan Thai. Namun, tentu saja untuk menguasai sebuah bahasa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh tekad yang kuat, dedikasi dan dibarengi dengan rasa sabar yang tinggi. Dan saya pribadi belumlah mencapai tahap itu. 

Ada satu saat dimana ketika saya sedang berwisata di Bangkok, ketika selesai berbelanja disebuah toko, saya mengucapkan kata terima kasih dalam bahasa Thai yang langsung disambut dengan senyum dan anggukan puas dari pemilik tokonya. Hanya kata simpel tapi bisa menciptakan senyum dan perasaan senang dari orang Thai tersebut bagiku adalah suatu nikmat yang luarbiasa.  

Banyak hal yang mendasari seseorang untuk mempelajari sebuah bahasa, misalnya karena setelah nonton drama Korea jadi ingin belajar bahasa Korea, atau seperti di Thailand yang penduduknya rata-rata tidak bisa berbahasa inggris, maka jika kita sedang berlibur disana, alangkah baiknya jika kita bisa sedikit berbicara bahasa mereka, sehingga tidak perlu susah-susah menyewa guide yang tentunya akan menambah biaya pengeluaran selama disana, dsb.

Overall, I'm glad I bought this book.

Rating : 3/5

6 comments:

  1. Replies
    1. memangnya kenapa Ky kalo nonfiksi?

      Delete
  2. iya ya, ini buku non fiksi yang membahas pengalaman belajar bahasa asing dari negaranya, agak beda dari buku traveling yang udah ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah mbak. beli ini karena ceritain 3 negara langsung.

      Delete
  3. jadi tertarik mau beli, soal lagi mau belajar budaya

    ReplyDelete