Judul : Hotel on the Corner of Bitter and Sweet
Penulis : Jamie Ford
Penerbit : Penerbit Matahati
Tahun terbit : 2011
Tebal : 398 hal
ISBN13 : 9786029625561
Sinopsis :
"Berapa lama kau akan menungguku,Henry?"
"Selama yang dibutuhkan.."
"Bagaimana kalau aku tetap di sini sampai tua dan ubanan-"
"Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat."
Review :
Cerita yang benar-benar menarik sekali. Aku tak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi orang Jepang disaat itu. Menjadi kelompok yang tersisih, dicemooh dan dianggap rendah oleh penduduk Amerika. Setelah pengeboman Pearl Harbor yang terjadi pada tahun 1941, warga Jepang yang menetap di Amerika tidak lagi merasa aman. Perang terjadi dimana-mana, kericuhan berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Warga Jepang yang menetap disana tidak lantas dibunuh, tapi mereka dikucilkan seakan mereka mengidap penyakit berbahaya. Padahal sebagian banyak dari mereka tidak mengerti bahasa Jepang. Mereka lahir dan besar di Amerika, tapi tak ada yang peduli. Mereka menganggap semua orang Jepang adalah sama, tak peduli dimana mereka dilahirkan.
Tahun 1942, ayah Henry menyuruhnya untuk tidak berbicara dalam bahasa ibu mereka lagi, tetapi dalam bahasa inggris. Henry tidak banyak bertanya karena ia tahu ia takkan mendapatkan jawabannya kalau ayahnya tidak menghendakinya. Sebagai kontrasnya, ayahnya menyematkan bros 'Aku Orang Cina' ke baju yang ia pakai setiap hari. Bros itu mungkin membantunya untuk menghindar dari dugaan orang jika ia adalah orang Jepang, tapi tidak membuatnya terbebas dari bulan-bulanan teman sekolahnya,Chaz.
Pada tahun yang sama,Henry pertama kalinya berkenalan dengan Keiko,anak keturunan Jepang yang bersekolah di sekolahnya. Dalam sekian menit mereka pun langsung akrab. Keiko adalah salah satu dari sekian banyak warga Jepang yang menetap di Amerika tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Jepang. Orangtua Henry tak mengetahui pertemanan rahasia mereka ini, tapi orangtua Keiko menyambut baik keinginan Henry untuk berteman dengan anak mereka.
Keadaan tak pernah benar-benar membaik saat itu, justru sebaliknya. Banyak hal yang Keiko dan Henry alami bersama sebelum saatnya mereka benar-benar berpisah. Meskipun begitu, kenangan-kenangan itu tersimpan baik dalam memori mereka. Black Elks Club, Hotel Panama, musik jazz, piringan hitam, dan Sheldon. Ya, Sheldon, pemain jazz hebat sekaligus teman Henry yang lain.
Hingga sekitar empat puluh tahun kemudian, semuanya telah benar-benar berubah. Henry sudah tak lagi muda, ia memiliki istri yang mengidap kanker, dan anaknya Marty sedang menuntut ilmu. Dengan tulus dan setia Henry mencintai istrinya, walau Keiko selalu menempati hati kecil terdalamnya.
PS : Buku Hotel on the Corner of Bitter and Sweet ini adalah hadiah dari my dear secret santa,Althesia. Bisa dicek blognya di : http://althesia.blogspot.com. Terima kasih atas buku,pin,dan bookmarknya,Essy.
God loves you like I do =D
Penulis : Jamie Ford
Penerbit : Penerbit Matahati
Tahun terbit : 2011
Tebal : 398 hal
ISBN13 : 9786029625561
Sinopsis :
"Berapa lama kau akan menungguku,Henry?"
"Selama yang dibutuhkan.."
"Bagaimana kalau aku tetap di sini sampai tua dan ubanan-"
"Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat."
Henry dan Keiko adalah korban perang Amerika-Jepang(1942). Mereka lahir dan tumbuh di Amerika, dalam masa perang tersebut. Henry adalah anak keturunan China, sementara Keiko keturunan Jepang.
Persahabatan mereka, yang diwarnai cinta remaja, terpaksa berakhir karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Empat puluh tahun kemudian, Henry, yang baru kehilangan istri tercintanya, tergugah untuk mencari benda peninggalan Keiko di sebuah hotel yang menjadi ciri khas kota Seattle, sekaligus tempat penyimpanan benda-benda keluarga Jepang di masa perang. Akankah pencarian ini akhirnya membuat Henry menemukan jawaban atas penantiannya di masa lalu?
Cerita yang benar-benar menarik sekali. Aku tak bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi orang Jepang disaat itu. Menjadi kelompok yang tersisih, dicemooh dan dianggap rendah oleh penduduk Amerika. Setelah pengeboman Pearl Harbor yang terjadi pada tahun 1941, warga Jepang yang menetap di Amerika tidak lagi merasa aman. Perang terjadi dimana-mana, kericuhan berlangsung untuk waktu yang cukup lama. Warga Jepang yang menetap disana tidak lantas dibunuh, tapi mereka dikucilkan seakan mereka mengidap penyakit berbahaya. Padahal sebagian banyak dari mereka tidak mengerti bahasa Jepang. Mereka lahir dan besar di Amerika, tapi tak ada yang peduli. Mereka menganggap semua orang Jepang adalah sama, tak peduli dimana mereka dilahirkan.
Tahun 1942, ayah Henry menyuruhnya untuk tidak berbicara dalam bahasa ibu mereka lagi, tetapi dalam bahasa inggris. Henry tidak banyak bertanya karena ia tahu ia takkan mendapatkan jawabannya kalau ayahnya tidak menghendakinya. Sebagai kontrasnya, ayahnya menyematkan bros 'Aku Orang Cina' ke baju yang ia pakai setiap hari. Bros itu mungkin membantunya untuk menghindar dari dugaan orang jika ia adalah orang Jepang, tapi tidak membuatnya terbebas dari bulan-bulanan teman sekolahnya,Chaz.
Pada tahun yang sama,Henry pertama kalinya berkenalan dengan Keiko,anak keturunan Jepang yang bersekolah di sekolahnya. Dalam sekian menit mereka pun langsung akrab. Keiko adalah salah satu dari sekian banyak warga Jepang yang menetap di Amerika tapi sama sekali tidak mengerti bahasa Jepang. Orangtua Henry tak mengetahui pertemanan rahasia mereka ini, tapi orangtua Keiko menyambut baik keinginan Henry untuk berteman dengan anak mereka.
Keadaan tak pernah benar-benar membaik saat itu, justru sebaliknya. Banyak hal yang Keiko dan Henry alami bersama sebelum saatnya mereka benar-benar berpisah. Meskipun begitu, kenangan-kenangan itu tersimpan baik dalam memori mereka. Black Elks Club, Hotel Panama, musik jazz, piringan hitam, dan Sheldon. Ya, Sheldon, pemain jazz hebat sekaligus teman Henry yang lain.
Hingga sekitar empat puluh tahun kemudian, semuanya telah benar-benar berubah. Henry sudah tak lagi muda, ia memiliki istri yang mengidap kanker, dan anaknya Marty sedang menuntut ilmu. Dengan tulus dan setia Henry mencintai istrinya, walau Keiko selalu menempati hati kecil terdalamnya.
"Dalam kehidupan ini, kadang kala tidak ada kesempatan kedua. Kau harus melihat yang kaumiliki, bukan yang tidak kaumiliki, dan bergerak maju." pg.364
PS : Buku Hotel on the Corner of Bitter and Sweet ini adalah hadiah dari my dear secret santa,Althesia. Bisa dicek blognya di : http://althesia.blogspot.com. Terima kasih atas buku,pin,dan bookmarknya,Essy.
God loves you like I do =D

